Renungan Kasih Tuhan, Mengubah Harus Menjadi Mau

- 14 Mei 2022, 00:00 WIB
Ayat Alkitab Dalam Kitab Mazmur.
Ayat Alkitab Dalam Kitab Mazmur. /Portal Papua/

PORTAL PAPUA - Mengubah "Harus" menjaadi "Mau", “Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:8)

Dalam sebuah tulisannya, Zig Ziglar menceritakan sebuah cerita yang mengubah sikap saya tentang apa yang harus saya lakukan sehari-hari. Setiap pagi selama beberapa tahun, tepat pukul 10 pagi, seorang pengusaha wanita terkenal akan mengunjungi ibunya di panti jompo.

Dia sangat sayang dan dekat sekali dengan ibunya. Seringkali dia menunda janjinya yang lain agar ia tetap bisa mengunjungi ibunya. Alasannya selalu sama, “Saya HARUS mengunjungi ibu saya.”    

Baca Juga: Renungan Kasih Tuhan, Inilah Tiga Pilar Penting Hidup Kekristenan


Akhirnya ibunya meninggal dan tidak lama kemudian seseorang meminta bertemu jam 10 pagi. Dia sadar kalau dia tidak bisa lagi mengunjungi ibunya. Pikirannya selanjutnya adalah, Oh seandainya aku bisa mengunjungi ibu sekali lagi. Sejak saat itu, dia mengubah “harus”-nya menjadi “mau”.    


Kisahnya menyadarkan kita kalau ada banyak hal menyenangkan yang bagi kita sifatnya “harus”. Saya harus main golf hari ini atau saya harus liburan minggu ini. Ada hal-hal menyebalkan yang sifatnya “harus”. Saya harus kerja besok jam 7.

Atau saya harus membereskan rumah. Karena persepsi kita mempengaruhi pemikiran dan performa, coba pikirkan hal ini. Jangan katakan, “Saya harus bekerja”, pikirkan orang yang tidak punya pekerjaan. Lalu kita bisa dengan antusias mengganti kata-kata tadi menjadi “Saya MAU bekerja besok.” Kalau ada yang mengajak kita memancing jangan katakan, “Tidak, saya harus menemani anak saya main Sabtu ini,” pikirkan bahwa suatu hari nanti anak Anda akan dewasa dan Anda tidak punya waktu untuk bermain dengannya lagi. Lalu kita bisa dengan mudah menggantinya dengan “MAU”.     


Lalu bagaimana dengan “Harus” mengabarkan Injil dan “Mau” mengabarkan Injil? Berapa jiwa yang kita bawa kepada Kristus dengan bermodalkan “keharusan” memberitakan Injil? Lalu bagaimana jika dari hati dan pikiran kita memang Mau Mengabarkan Injil? Kita akan menemukan bahwa kita melakukan penginjilan dengan senang hati, bukan karena harus melakukannya.

Baca Juga: Dukcapil dan KPU Sepakat Tuntaskan Masalah Data Pemilih Untuk Pemilu 2024

Halaman:

Editor: Eveerth Joumilena

Sumber: King's Sword


Tags

Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

x