Bangkit Melalui Pendidikan Kristen

- 4 Mei 2022, 08:13 WIB
/


PORTA PAPUA - Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Timotius 3:16)

Bulan Mei merupakan sebuah momentum sejarah Nasional, karena pada bulan Mei ini melalui Keppres No.316 tahun 1959 menetapkan ada 2 hari Nasional pada bulan Mei ini, yaitu tanggal 2 Mei sebagai hari Pendidikan Nasional dan tanggal 20 Mei sebagai hari kebangkitan Nasional. Walaupun dalam sejarah latar belakang lahirnya jelas berbeda.

Baca Juga: Gila Kekayaan, Akar Segala Kejahatan Adalah Uang

Hari Pendidikan Nasional adalah penghargaan atas usaha-usaha Ki Hajar Dewantoro memajukan pendidikan dan kemudian Pemerintah menetapkan tanggal lahir Ki Hajar Dewantoro yaitu 2 Mei sebagai hari Pendidikan Nasional. Sedangkan Hari kebangkitan Nasional dilatarbelakangi dari terbentuknya organisasi modern pemuda pertama di Indonesia yaitu Boedi Oetomo yang didirikan pada tanggal 20 Mei tahun 1908.
Jika kita melihat sejarah, dan latar belakang dari rangkaian peristiwa dan tokoh sejarah ini, maka kita menemukan kesamaan yaitu pendidikan ( proses belajar ) akan memberi dampak yang besar bagi kebangkitan seseorang, bahkan sebuah bangsa.


Pada awal abad ke-20, orang Indonesia yang mengenyam pendidikan tingkat menengah hampir tidak ada. Politik Etis memungkinkan perluasan kesempatan pendidikan menengah bagi penduduk asli Indonesia. Pada tahun 1925, fokus pemerintah kolonial bergeser ke penyediaan pendidikan kejuruan dasar selama tiga tahun. Pada tahun 1940, lebih dari 2 juta siswa telah bersekolah sehingga tingkat melek huruf meningkat menjadi 6,3 persen yang tercatat dalam sensus tahun 1930. Pendidikan menengah Belanda membuka cakrawala dan peluang baru, dan sangat diminati oleh orang-orang Indonesia.


Pada tahun 1940, sekitar 80.000 siswa Indonesia bersekolah di sekolah dasar Belanda atau sekolah dasar yang didukung Belanda, atau setara dengan 1 persen dari kelompok usia yang sesuai. Di sekitar waktu yang sama, ada 7.000 siswa Indonesia di sekolah menengah menengah Belanda. Sebagian besar siswa sekolah menengah bersekolah di Mulo. Meskipun jumlah siswa yang terdaftar relatif sedikit. Pendidikan menengah Belanda memiliki kualitas tinggi dan sejak tahun 1920-an mulai menghasilkan pemuda Indonesia terdidik yang baru. Para pemuda inilah yang kemudian mulai memunculkan berbagai organisasi modern dengan semangat Pendidikan.

Baca Juga: Hardiknas 2022 Untuk Kesadaran Pendidikan Bagi Pembangunan Bangsa, Oleh : Dr. Leonardus Tumuka, Ph.d


Firman Tuhan hari ini menggambarkan bahwa Firman Allah memiliki kuasa untuk mengubah hidup kita, namun tentunya kuasa perubahan ini akan bekerja jika kita memiliki kerinduan hati untuk mempelajari, merenungkan, menganalisa, dan mempraktekkannya. Hal ini bermakna bahwa hanya dengan belajarlah kita bisa mengaktifkan potensi perubahan dari Firman Tuhan. Pribadi-pribadi yang alami perubahan-perubahan inilah yang kemudian akan bangkit dan melakukan perubahan-perubahan gereja dan bangsa ini. Siap belajarkah kita? (HA)

Questions:
1. Menurut Anda, apakah pendidikan berjenjang tinggi sangat diperlukan?
2. Sudahkah Anda mempelajari, menggali, dan mempraktekkan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari Anda?

Halaman:

Editor: Eveerth Joumilena


Tags

Terkait

Terkini

Terpopuler

Terpopuler Pikiran Rakyat Network

x